Recent Posts

settia

Syafaat Rasulullah, Keluar dari Bingkai Kultus Individual


Manusia saat ini merasa berada pada posisi paling top power, seperior dan luar biasa. Pengakuan diri sebagai manusia modern dan postmodern seakan memberi kesan bahwa manusia terdahulu adalah manusia yang masih tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh sebab itu, terjadi fenomena “kebanggaan berlebihan” terhadap kecanggihan dari teknologi yang manusia modern katakan dengan “teknologi tingkat tinggi”.

Semua serba otomatis, semua serba kontrol jarak jauh, semua serba tiga dimensi, semua serba menembus ruang dan waktu, semua serba cepat dan serba efisien. Sehingga, muncullah pengkultusan bahwa “kami sedang berada pada era modernisasi, sebuah zaman yang penuh dengan temuan baru yang canggih dan relevan untuk zaman ini”. Ada juga yang bilang, “ kami berada pada zaman modern, dimana kami harus tampil trendy dan sesuai dengan zaman”. “kami berada pada zaman modern, dimana pembahasan muhrim bukan merupakan hal penting”. “kami berada pada zaman modern, dimana lebih hebat dari zaman terdahulu”.



Kebanggaan inilah yang terkadang membuat actor modern menjadi sangat kerdil, sebab merasa bahwa zaman semasa hidupnya merupakan zaman-zaman yang terbaik dari masa sebelumnya, sehingga banyak sekali aktor yang bangga dengan prestasi-prestasi duniawi yang tidak diseimbangkan dengan nilai-nilai keukhrawian. Jika, boleh belajar dari Nabi Muhammad SAW, sambil kita merefleksi dalam diri kita sendiri, mengapa Sayyidina Muhammad tidak mau wajahnya dilukis, digambar sebagai sebuah peninggalan masa, atas eksistensi sang rasul dalam memperjuangkan agama Allah SWT.


Mengapa Rasul, tidak meninggalkan sebuah kenangan pada umat muslim selayaknya agama lain yang dengan bebas mengekspresikan bentuk tuhan dan pembawa agama mereka. Contohnya Hindu, Budha, Kristiani, Konghuchu dan lain-lain yang menggambarkan tuhannya dalam bentuk archa, gambar, tanda sebagai simbol ritualitas. Mengapa Rasul tidak meninggalkan apa-apa?.

Mohon maaf, saya sama sekali tidak mau melakukan komparasi antar agama, saya hanya mencoba melakukan refleksi terhadap diri kita sendiri. Saya tidak mau berbicara benar dan salah, sebab suatu keyakinan sudah ada nashnya, “agamamu agamamu, agamaku agamaku”. Atau hendak menjabarkan seperti Sankara Saranam yang justru banyak memiliki pemahaman salah tentang Nabi Muhammad, dan kurang mendalam terhadap agama-agama yang lain, dari segi stock of knowledge memahami agama lain. Dan saya tidak hendak membahas tentang agama yang memiliki tingkat kerumitan dan sensifitas tinggi.

Jawabannya sederhana, Rasulullah tidak mau dikultuskan, Rasulullah tidak mau dipuja, Rasulallah tidak mau diberhalakan. Rasulallah hanya mau dicintai dan disayangi umatnya dengan cara “menjaga warisannya” (Alquran dan Alhadist). Rasulallah, hanya mau dicintai dan disayangi, dengan cara mengikuti apa yang dilakukannya sebagai peninggalan yang paling penting dalam menjalani hidup sebagai seorang muslim, maupun sebagai manusia yang diberi mandate sebagai khalifatu fil ardli.

Rasulallah tidak pernah mengkultuskan dirinya sebagai orang hebat, orang luar biasa, orang super. Rasulallah merupakan sosok yang tidak mengagung-agungkan diri, didalam kecintaan dan kekaguman Rasulallah atas karya dan pengabdiannya pada Allah SWT, dalam menegakkan kebaikan dan kebenaran. Tidak ada satu sikap mengkultuskan diri, untuk dihormati ummatnya, dengan segala kehebatan zaman Islam pada masa itu. Artinya apa?, sangat tidak relevan, khususnya umat Islam dan umumnya masyarakat dunia, dengan melakukan pengkultusan diri terhadap suatu zaman, cipta dan karya yang kita jalani atau kita hasilkan.

Belajar pada Rasul, anggaplah bahwa semua hasil cipta, karya dan kecanggihan pada zaman ini adalah sebuah jalan pengabdian, dan mengkonversinya kepada bentuk-bentuk kebaikan, tanpa harus melakukan pengkultusan diri pada suatu zaman, apalagi hal-hal yang berkaitan dengan kebendaan.

Rasulallah takut dipuja berlebihan oleh ummatnya, eh…kita malah berkarya sedikit saja, kadang ingin dihormati oleh orang secara berlebihan. Ingat, hidup ini sebentar, jika hanya diisi dengan rasa ingin dipuja, sebenarnya anda tengah berada dalam kehancuran. Tapi, apabila hidup ini diisi penuh dengan karya setulus hati, sesungguhnya anda tengah berada pada hidup yang berarti. Belajar dari Nabi Muhammad, Mari hindari pengkultusan diri.

Sekarang ini kita dapat menyaksikan berbagai Kultus Individu, Kultus Pemimpin, Kultus Ulama, Kultus Politik, dll.

Posting Komentar

0 Komentar